Banjarbaru (8/9/2026) – Musim kemarau yang berlangsung di Kalimantan Selatan menjadi perhatian seiring dengan meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan ketersediaan air, tetapi juga menjadi tantangan bagi sektor pertanian dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan ketahanan pangan daerah.
Hal tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam program “Topik Kita Hari Ini” yang disiarkan oleh Radio Abdi Persada 104,7 FM dengan tema “Kemarau Panjang dan Karhutla, Bagaimana Ketahanan Pangan Kalsel?”. Diskusi tersebut menghadirkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, serta pengamat lingkungan untuk membahas kondisi kemarau, potensi karhutla, ketersediaan air, hingga strategi menjaga ketahanan pangan di tengah kondisi iklim yang kering.
September, Salah Satu Periode Puncak Musim Kemarau
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik, S.T., M.P., menjelaskan bahwa kondisi iklim saat ini perlu menjadi perhatian karena Kalimantan Selatan telah memasuki periode puncak musim kemarau.
Sejumlah wilayah mencatatkan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang sangat panjang, bahkan ada yang tidak diguyur hujan lebih dari 60 hari sehingga masuk kategori kekeringan ekstrem. Semakin lama kondisi tanpa hujan ini berlangsung, tanah dan vegetasi akan semakin kering. Akibatnya, krisis air bersih mengintai dan meningkatkan risiko karhutla.

“Informasi cuaca dan iklim perlu menjadi salah satu referensi dalam menentukan aktivitas masyarakat, terutama sektor yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan iklim,” ujar Klaus.
Informasi Iklim untuk Mendukung Kesiapsiagaan
Dalam menghadapi musim kemarau, Klaus menekankan pentingnya pemanfaatan informasi cuaca dan iklim sebagai dasar dalam melakukan antisipasi. BMKG secara berkelanjutan memantau perkembangan kondisi atmosfer dan menyediakan informasi cuaca serta iklim yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun masyarakat.
Informasi tersebut disampaikan melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk media sosial BMKG dan grup koordinasi lintas sektor. Penyampaian informasi secara berkelanjutan diharapkan dapat membantu masyarakat memahami perkembangan kondisi iklim dan melakukan penyesuaian aktivitas.
Bagi sektor pertanian, informasi iklim dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan waktu tanam, pengelolaan air, hingga strategi menghadapi potensi kekeringan. Dengan demikian, informasi iklim tidak hanya berfungsi sebagai informasi kondisi atmosfer, tetapi juga menjadi bagian dari proses perencanaan dan pengambilan keputusan.
Pemanfaatan informasi tersebut menjadi semakin penting ketika kondisi kemarau berlangsung lebih panjang atau lebih kering dari kondisi normal. Petani dapat menyesuaikan pola kegiatan berdasarkan informasi mengenai perkembangan musim dan prediksi hujan yang tersedia.
Ketersediaan Air Perlu Menjadi Perhatian
Tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, kemarau panjang juga mengancam ketersediaan sumber daya air. Berkurangnya hujan dalam periode yang cukup panjang dapat menyebabkan sumber air mengalami penurunan, sementara kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian tetap berlangsung.
Klaus mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan mengutamakan kebutuhan prioritas. Efisiensi penggunaan air menjadi semakin penting ketika sumber daya air mulai terbatas.
Pengelolaan sumber daya air juga membutuhkan dukungan lintas sektor. Ketersediaan air untuk masyarakat dan pertanian perlu direncanakan secara baik, terutama pada wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air maupun jaringan irigasi.
Dalam diskusi tersebut juga muncul pandangan mengenai perlunya pengelolaan sumber daya air yang lebih terintegrasi, termasuk pengembangan sumber air alternatif pada wilayah yang belum terjangkau jaringan irigasi. Koordinasi antara sektor pertanian, pekerjaan umum, pengelola sumber daya air, dan instansi terkait menjadi penting untuk memastikan pemanfaatan air dapat dilakukan secara optimal dan berkeadilan.
Kemarau Meningkatkan Risiko Karhutla
Kondisi tanah dan semak yang mengering sangat mudah terbakar jika tersulut api. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap karhutla harus diperketat, terutama di daerah yang sudah lama tidak turun hujan.
Masyarakat diimbau tegas untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Mengingat karhutla adalah masalah tahunan, pencegahan harus dilakukan sejak awal. Mencegah sebelum api muncul jauh lebih baik dan efektif daripada harus memadamkan api yang sudah meluas.
Menjaga Ketahanan Pangan di Tengah Kemarau
Meski di tengah kondisi kemarau panjang, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, memastikan pasokan pangan daerah tetap aman. Produksi beras Kalsel diprediksi masih surplus dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga tahun 2026.
Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi adaptasi petani dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca dan iklim. Petani di Kalimantan Selatan telah memiliki kearifan lokal dalam membaca siklus musim dan menyesuaikan kegiatan pertanian, antara lain melalui penyesuaian pola tanam maupun pelaksanaan panen lebih awal.
Pemerintah juga melarang keras praktik pembakaran lahan pertanian. Sebagai solusi, pemerintah meminjamkan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) agar petani tetap bisa mengolah lahan secara produktif tanpa perlu membakarnya.
Perlunya Antisipasi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Kemarau panjang, kekeringan, karhutla, ketersediaan air, dan ketahanan pangan merupakan persoalan yang saling berkaitan. Kondisi iklim yang kering dapat meningkatkan kebutuhan air untuk pertanian, sementara keterbatasan air dapat memberikan tekanan terhadap produktivitas tanaman. Pada saat yang sama, lahan dan vegetasi yang semakin kering meningkatkan potensi terjadinya karhutla.
Karena itu, penanganannya tidak dapat dilakukan secara sektoral. Diperlukan koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah, BMKG, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, aparat, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya.
Menurut Klaus, informasi cuaca dan iklim perlu terus dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan. Dengan memahami kondisi dan potensi perkembangan iklim, masyarakat dan pemerintah dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal serta menyesuaikan kegiatan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Pendekatan berbasis informasi tersebut juga dapat memperkuat perencanaan pengelolaan air dan pertanian. Ketika informasi iklim diintegrasikan dengan kebijakan sektor pertanian, sumber daya air, dan kebencanaan, upaya menghadapi kemarau dapat dilakukan secara lebih terarah dan tidak hanya bersifat reaktif.
Kesimpulan
Diskusi “Topik Kita Hari Ini” menegaskan bahwa kemarau panjang di Kalimantan Selatan merupakan kondisi yang perlu diantisipasi secara bersama-sama, terutama pada periode puncak musim kemarau di September. Adanya sejumlah wilayah yang mengalami HTH lebih dari 60 hari menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap kekeringan, keterbatasan air, dan potensi karhutla.
Dalam kondisi tersebut, informasi cuaca dan iklim menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung pengambilan keputusan, khususnya bagi sektor pertanian. Pemanfaatan informasi BMKG secara tepat dapat membantu masyarakat dan pemerintah menyesuaikan aktivitas, menentukan strategi pengelolaan air, serta mengantisipasi risiko kekeringan dan karhutla.
Di sisi lain, ketahanan pangan Kalimantan Selatan perlu terus diperkuat melalui kemampuan adaptasi petani, pengelolaan sumber daya air yang bijaksana, pencegahan karhutla, serta dukungan kebijakan dan koordinasi lintas sektor.
Dengan mengedepankan kesiapsiagaan, pemanfaatan informasi iklim, efisiensi penggunaan air, adaptasi sektor pertanian, dan kolaborasi lintas sektor, dampak kemarau panjang dan karhutla terhadap masyarakat serta ketahanan pangan Kalimantan Selatan dapat diminimalkan.
BMKG Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan terus berkomitmen menyediakan informasi cuaca dan iklim yang tepat, cepat, akurat, luas, dan mudah dipahami sebagai bagian dari dukungan terhadap pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi dinamika iklim. Pemanfaatan informasi tersebut secara optimal diharapkan dapat memperkuat ketahanan daerah dalam menghadapi musim kemarau sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan Kalimantan Selatan.
![]()


