Banjarmasin (7/09/2026) – Kepala Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik, S.T., M.P., menjadi narasumber dalam Dialog Perspektif TVRI Kalimantan Selatan bertajuk “KARHUTLA KALSEL: APA KABAR PENCEGAHAN DINI”, Senin (7/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Studio Utama TVRI Kalimantan Selatan tersebut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi TVRI Kalimantan Selatan.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan didampingi oleh PMG Binsar Aries Haposan Manalu, S.Tr., M.Ling. Dialog turut menghadirkan Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Dian Ansyari, S.H., M.H., serta pakar Perencanaan Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. Ir. Ahmad Jauhari, M.P.
Dialog membahas kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, khususnya dari aspek pencegahan dini, perkembangan musim kemarau, potensi kekeringan, serta penguatan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi risiko karhutla dan kekeringan.
Peringatan Dini yang Telah Disampaikan Sejak April
BMKG telah memberikan early warning atau peringatan dini secara nasional sejak April 2026 terkait potensi kondisi musim kemarau dan dampaknya. Berdasarkan informasi klimatologi yang tersedia saat itu, fenomena El Nino yang terus menguat turut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat berkontribusi terhadap kondisi yang lebih kering dan periode musim kemarau yang lebih panjang di sejumlah wilayah.
Khusus untuk Kalimantan Selatan, BMKG telah melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan melalui press conference secara virtual pada akhir April 2026 untuk menyampaikan prediksi terkait musim kemarau.
Informasi tersebut kemudian terus diperbarui seiring perkembangan kondisi atmosfer dan iklim. Memasuki Juni 2026, seluruh wilayah kabupaten/kota di Kalimantan Selatan telah memasuki musim kemarau, sebagaimana yang telah diprediksi sebelumnya. Kondisi ini menjadi dasar penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan langkah mitigasi terhadap potensi kekeringan serta karhutla.
Puncak Kemarau dan Minimnya Curah Hujan
Peningkatan kejadian karhutla pada September 2026 bertepatan dengan periode yang diprediksi BMKG sebagai puncak musim kemarau di Kalimantan Selatan. Dalam fase ini, curah hujan sangat minim. Jikapun terjadi hujan seperti yang sempat terpantau di beberapa wilayah Banua Enam, intensitasnya sangat ringan (di bawah 20 mm) dengan durasi maksimal hanya sekitar 30 menit. Hal ini tentu tidak cukup untuk mengisi kembali waduk, embung, atau membasahi lahan gambut yang telah mengering, sehingga upaya pemadaman darat kehilangan sumber air utamanya.
Dilema Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
Ketika api sudah menyebar dan air menipis, banyak pihak berharap pada hujan buatan atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, BMKG memberikan pandangan teknis yang sangat rasional: OMC tidak bisa dilakukan dari ruang hampa. Syarat mutlak penyemaian garam adalah ketersediaan bibit awan potensial. Di puncak kemarau seperti bulan September, langit terpantau sangat bersih (clear) tanpa adanya potensi awan yang memadai.
Menurut pandangan Kepala Staklim Kalsel, langkah OMC seharusnya dieksekusi sebagai bentuk “panen air” sebelum kekeringan ekstrem melanda (misalnya di awal musim saat bibit awan masih melimpah). Air hujan buatan tersebut nantinya ditampung di embung-embung atau disalurkan ke kanal-kanal lahan gambut sebagai cadangan saat puncak kemarau tiba, bukan baru diusulkan ketika awan sudah menghilang.
Proyeksi ke Depan: El Nino Bertahan Hingga 2027
Tantangan belum usai. BMKG memproyeksikan bahwa sepanjang bulan Oktober, curah hujan di Kalsel masih dalam kategori rendah. Meskipun musim hujan diprediksi mulai masuk pada awal November, pengaruh El Nino diprediksi masih akan membayangi hingga Januari 2027. Untuk memitigasi hal ini, BMKG terus memperbarui dan menyampaikan informasi secara berkala termasuk merilis Hari Tanpa Hujan dan Peta Kemudahan Terjadinya Kebakaran yang disampaikan melalui situs web, media sosial, serta kanal komunikasi lintas instansi sebagai bahan pendukung kewaspadaan dan pengambilan keputusan.
Kesimpulan
Dari perspektif BMKG, penguatan pencegahan dini karhutla di Kalimantan Selatan perlu dilakukan melalui pemanfaatan informasi cuaca dan iklim secara lebih optimal serta penguatan koordinasi lintas sektor. Informasi mengenai prediksi musim dan potensi kekeringan telah disampaikan sejak sebelum memasuki periode puncak musim kemarau. Informasi tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi, termasuk upaya pengelolaan ketersediaan air dan pelaksanaan OMC pada waktu dan kondisi atmosfer yang mendukung. Dengan demikian, langkah mitigasi dapat dipersiapkan lebih awal sebelum memasuki periode dengan risiko kekeringan dan karhutla yang lebih tinggi.
Saran
- Penguatan Kebijakan Berbasis Informasi Iklim: Informasi dan peringatan dini BMKG perlu dimanfaatkan sebagai salah satu dasar dalam penyusunan kebijakan dan langkah kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, terutama sebelum memasuki periode dengan potensi kekeringan dan karhutla yang lebih tinggi.
- Optimalisasi Pengelolaan dan Ketersediaan Air: Upaya pengelolaan ketersediaan air perlu dipersiapkan sejak periode transisi menuju musim kemarau. Pelaksanaan OMC harus diubah paradigmanya dari “pemadam kebakaran darurat” menjadi “investasi air”. Pelaksanaan OMC, apabila diperlukan dan didukung oleh kondisi atmosfer yang memenuhi persyaratan teknis dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung pengisian sumber-sumber air seperti embung dan kanal sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi periode kering.
- Penguatan Koordinasi dan Respons Lintas Sektor: Pencegahan karhutla memerlukan koordinasi yang kuat dan respons yang cepat antara pemerintah daerah, BMKG, BPBD, aparat, pengelola kawasan, dunia usaha, serta masyarakat. Pemanfaatan informasi cuaca dan iklim secara terpadu diharapkan dapat mempercepat penentuan langkah mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan sebelum risiko karhutla meningkat.




![]()


