Banjar (9/9/2026) – Kepala Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik, S.T., M.P., menghadiri sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi FORKOPIMDA Kabupaten Banjar yang dilaksanakan di Ballroom Bukit Bintang Park and Resort, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banjar sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kekeringan selama musim kemarau. Rakor juga menjadi wadah koordinasi dalam mengantisipasi berbagai dampak musim kemarau yang kering dan berkepanjangan terhadap aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Staklim Kalsel didampingi oleh PMG Pertama Made Anggun Dwi Utami, S.Tr., M.Ling. Sebagai narasumber, Klaus Johannes Apoh Damanik menyampaikan informasi terkait dinamika atmosfer, perkembangan musim kemarau 2026, kondisi kekeringan, serta kualitas udara di Provinsi Kalimantan Selatan, khususnya wilayah Kabupaten Banjar.
Penyampaian informasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk memahami kondisi iklim terkini serta potensi perkembangan kondisi kemarau. Informasi iklim dan cuaca dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah antisipasi dan penanganan yang tepat, khususnya pada wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan peningkatan risiko Karhutla.
Selain pemaparan kondisi iklim, rapat juga membahas koordinasi lintas sektor terkait langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan Karhutla serta mitigasi dampak kekeringan di Kabupaten Banjar. Sinergi antara pemerintah daerah, BMKG, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk memastikan upaya pencegahan dapat dilakukan secara terpadu dan respons terhadap kondisi di lapangan dapat dilaksanakan secara lebih cepat dan tepat.
Melalui kegiatan ini, BMKG Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan terus mendukung upaya pemerintah daerah dalam menghadapi musim kemarau melalui penyediaan informasi iklim yang tepat, cepat, akurat, luas, dan mudah dipahami. Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan serta meminimalkan risiko dan dampak Karhutla maupun kekeringan bagi masyarakat, lingkungan, dan berbagai sektor pembangunan di Kabupaten Banjar.


![]()


