Memaksimalkan Hasil Panen Tomat dengan Informasi BMKG
Oleh : Nadia
Mahasiswa Magang di BMKG Staklim Kalimantan Selatan Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat
Tomat merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan petani di Indonesia, termasuk wilayah Kalimantan Selatan dan sekitarnya. Tanaman ini sangat peka terhadap perubahan cuaca dan kondisi iklim. Kesalahan memilih waktu tanam atau tidak mengantisipasi kondisi alam sering kali menjadi penyebab utama gagal panen. Di sinilah peran informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi panduan penting bagi keberhasilan budidaya tomat.
Persyaratan Iklim untuk Tanaman Tomat
- Sebagai dasar, tomat tumbuh optimal pada suhu antara 20–30°C dengan kelembapan udara sekitar 60–80%. Curah hujan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat mengganggu pertumbuhan:
- Hujan berlebih menyebabkan akar membusuk, bunga rontok, dan meningkatkan risiko penyakit jamur serta bakteri.
- Kekeringan berkepanjangan membuat buah menjadi kecil, pecah, atau rontok sebelum matang.
Dengan memantau informasi dan prakiraan BMKG, petani dapat menyesuaikan pola budidaya sesuai kondisi yang akan datang.
Menentukan Waktu Tanam yang Tepat
BMKG secara rutin merilis informasi awal musim hujan, puncak hujan, dan awal musim kemarau. Untuk tanaman tomat, waktu tanam terbaik umumnya adalah pada awal musim hujan atau saat curah hujan mulai menurun menuju musim kemarau.
Di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya, jika BMKG memprediksi awal musim hujan akan dimulai pada bulan Oktober misalnya, maka penanaman dapat dilakukan sekitar 1–2 minggu sebelumnya. Hal ini memungkinkan bibit tumbuh kuat saat air cukup tersedia, tanpa terendam air secara terus-menerus. Sebaliknya, jika diprediksi akan terjadi musim kemarau panjang, penanaman sebaiknya ditunda atau disiapkan sistem irigasi tambahan.
Mengantisipasi Fenomena Iklim Ekstrem
BMKG juga memantau fenomena seperti El Niño dan La Niña yang berdampak besar pada pertanian:
- Saat El Niño, terjadi penurunan curah hujan dan suhu udara cenderung lebih panas. Bagi tomat, kondisi ini berisiko menyebabkan kekurangan air. Berdasarkan peringatan BMKG, petani dapat memilih varietas tomat yang tahan kering, membuat saluran penampungan air, dan mengatur jadwal penyiraman secara teratur.
- Saat La Niña, curah hujan meningkat secara signifikan. Dalam kondisi ini, risiko penyakit seperti layu bakteri dan busuk buah sangat tinggi. Informasi dini dari BMKG memungkinkan petani membuat bedengan tanah yang lebih tinggi, memperbaiki saluran pembuangan air, serta mempercepat penyemprotan pencegahan hama dan penyakit.
Menjaga Kualitas dan Hasil Panen
Selama masa pertumbuhan hingga panen, informasi harian dan mingguan dari BMKG sangat membantu. Jika diprediksi akan ada hujan lebat dalam beberapa hari ke depan, petani dapat segera memanen tomat yang sudah hampir matang agar tidak rusak atau busuk terkena air hujan. Selain itu, pada hari yang diperkirakan cerah, petani dapat melakukan kegiatan pemupukan atau penyemprotan yang membutuhkan kondisi cuaca kering agar hasilnya efektif.
![]()








