BMKG Kalsel Menyampaikan Perkembangan Musim Kemarau : Bergerak Cepat Satgas Karhutla dan Distribusi BBM
Rabu (10/06/2026) BMKG Stasiun Kalimantan Selatan diwakili oleh PMG Madya Khairullah, S.P., M.Si. didampingi oleh Binsar Aries Haposan Manalu, S.Tr. menghadiri Rapat Koordinasi Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla dan Pengawasan Pendistribusian BBM di Aula Mapolda Kalimantan Selatan, Banjarbaru. Acara ini dipimpin oleh Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin. Dalam arahannya, beliau menjelaskan bahwa rapat koordinasi tersebut difokuskan pada dua agenda utama, yakni pembentukan kembali struktur Satgas Karhutla yang lebih efektif dan penguatan pengawasan distribusi BBM di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Acara ini dihadiri oleh Kapolda Kalimantan Selatan, Pangdam XXII/Tambun Bungai , Danlanud Sjamsudin Noor, Kabinda Kalsel, Danlanal Banjarmasin, Ketua DPRD Kalsel, jajaran SKK Migas, Pertamina Patra Niaga,kepala SKPD lingkup Pemprov Kalsel, dan instansi terkait lainnya.
Pada kesempatan ini BMKG Kalimantan Selatan sebagai narasumber diminta menyampaikan tentang perkembangan musim dan prediksi hujan ke depannya. Saat ini, Kalimantan Selatan semua masih dalam masa transisi menuju musim kemarau. Curah hujan diprediksi terus menurun selama Juni pada kriteria Menengah dan sebagian wilayah akan terus menurun pada Juli hingga Agustus pada kriteria Rendah. Hujan pada tahun ini akan dipengaruhi oleh kejadian El Nino yang terjadi di Samudera Pasifik, yang saat ini telah memasuki fase El Nino, artinya nanti dampaknya akan mengurangi jumlah curah hujan di Indonesia khususnya Kalimantan Selatan. Saat puncak musim kemarau diprediksi pada Agustus hingga September 2026, sehingga perlu kesiapsiagaan terhadap meminimalkan risiko kekeringan dan potensi Karhutla.
Menanggapi informasi tersebut, Gubernur H. Muhidin menginstruksikan seluruh jajaran bergerak cepat melakukan antisipasi, segera pendataan ulang, kesiapan seluruh sarana prasarana pemadaman tanpa harus menunggu bencana terjadi. Di sisi lain, beliau menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering memicu Karhutla, yakni membuka lahan atau membersihkan sisa semak dengan cara dibakar. Beliau mengimbau agar kebiasaan tersebut ditinggalkan dan sisa sampah kebun lebih baik dikubur guna mencegah percikan api merembet ke lokasi lain. Gubernur meminta aparat penegak hukum untuk tidak segan memberikan sanksi tegas kepada siapa saja yang terbukti melakukan pembakaran lahan demi menciptakan efek jera dan mencegah bencana serupa terulang kembali.






![]()








