Menakar Kualitas Udara dan Tren Iklim Kalimantan Selatan saat Puncak Musim Kemarau Kering : Penjelasan BMKG Soal Kualitas Udara dan Karhutla Saat Ini

Banjarbaru, (25/08/2026), Belakangan ini, warga Kalimantan Selatan merasakan cuaca yang panas dan kejadian kabut asap. Siang hari terasa lebih panas dan terik, hujan semakin jarang turun, sementara pada pagi hari di beberapa tempat mulai tercium bau asap dan terlihat kabut di dekat permukaan. Kondisi ini bukan sekadar membuat aktivitas terasa kurang nyaman dan semakin kering, tetapi juga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, serta penurunan kualitas udara di puncak musim kemarau ini. Mengapa cuaca terasa semakin panas? Mengapa asap justru sering lebih pekat pada pagi hari? Dan mengapa ketika kabut asap muncul, hujan buatan tidak selalu bisa langsung dilakukan? Berikut penjelasannya dari perspektif BMKG.

Dalam dialog Kentongan : Radio Tanggap Bencana di RRI Banjarmasin, Prakirawan Iklim Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, Agus Kuswanto, S.Tr.Met. menjelaskan bahwa kondisi cuaca, atmosfer, pergerakan angin, karhutla, dan kualitas udara saling berkaitan. Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat puncak musim kemarau.

Kemarau Kering Membuat Kalsel Lebih Rentan

Saat memasuki puncak musim kemarau, kondisi atmosfer di Kalimantan Selatan dipengaruhi oleh dominasi angin Monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering dan dingin dari wilayah selatan. Bersamaan dengan itu, tutupan awan di Kalimantan Selatan menjadi semakin minim. Akibatnya, sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi dan meningkatkan penguapan serta kekeringan di lingkungan. Minimnya awan membuat panas matahari terasa lebih menyengat pada siang hari. Namun, pada malam hingga dini hari, suhu udara justru dapat terasa lebih dingin karena panas dari permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer. Saat ini, kita sedang di puncak musim kemarau yang terasa sangat kering karena adanya pengaruh El Nino yang kuat.

Kondisi kering yang berlangsung cukup lama membuat kandungan air di tanah dan vegetasi terus berkurang. Lahan gambut yang selama ini menyimpan air seperti spons pun dapat kehilangan kelembapannya. Ketika lahan semakin kering, percikan api kecil dapat dengan mudah berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. Sebagai catatan, cuaca panas dan kering bukan penyebab karhutla. Cuaca hanya menciptakan kondisi yang lebih mudah terbakar. Sementara pemicu api sering kali berasal dari aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan cara membakar, atau puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Mengenal PM2,5 dan Dampaknya terhadap Kualitas Udara

Salah satu indikator yang digunakan dalam pemantauan kualitas udara adalah PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap kebakaran. Karena ukurannya sangat kecil, partikel tersebut dapat terbawa angin dan sulit dilihat secara langsung. Maka, kondisi udara tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan apakah langit terlihat cerah atau tidak. BMKG melakukan pemantauan konsentrasi PM2,5 untuk mengetahui kondisi kualitas udara. Hasil pemantauan tersebut digunakan sebagai dasar penyampaian informasi kepada masyarakat. Dalam dialog tersebut, kondisi kualitas udara saat pengamatan disampaikan terkadang masih berada pada kondisi yang relatif aman. Namun, kondisi ini tetap dapat berubah karena dipengaruhi oleh sumber asap, kondisi atmosfer, serta arah dan kecepatan angin. Masyarakat dianjurkan untuk mengikuti informasi resmi tentang PM2,5 dan tidak hanya mengandalkan pengamatan secara kasat mata.

Mengapa Kabut Asap Sering Lebih Pekat pada Pagi Hari?

Bukankah udara pagi seharusnya terasa segar dan bersih? Ternyata, tidak demikian. Pada malam hingga dini hari dapat terjadi kejadian inversi suhu. Saat malam hari, permukaan bumi kehilangan panas dan menjadi lebih dingin. Udara dingin kemudian berada dekat dengan permukaan, sementara lapisan udara di atasnya relatif lebih hangat. Kondisi tersebut dapat diibaratkan seperti “tutup panci”. Asap karhutla, emisi kendaraan, dan debu yang berada di dekat permukaan menjadi lebih sulit bergerak ke atas. Polutan akhirnya terkonsentrasi di lapisan udara bawah, tepat di dekat ruang yang kita gunakan untuk bernapas. Itulah sebabnya kabut atau asap dapat terlihat lebih pekat pada pagi hari. Setelah matahari mulai memanaskan permukaan bumi, kondisi atmosfer perlahan berubah dan polutan mulai terangkat serta menyebar. Kondisi ini umumnya mulai berubah sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 pagi.

Asap yang dirasakan masyarakat tidak selalu berasal dari kebakaran yang terjadi di sekitar. Angin dapat membawa asap dari lokasi yang cukup jauh menuju kawasan permukiman. Berdasarkan analisis pola angin permukaan, arah angin dominan pada periode puncak kemarau bergerak dari Tenggara menuju Barat Daya. Pergerakan angin tersebut dapat melewati kawasan yang memiliki tutupan lahan gambut cukup luas dan membawa polutan menuju wilayah permukiman.

Rumah Sudah Tertutup, Mengapa Bau Asap Masih Masuk?

Ketika kabut asap terjadi, sebagian masyarakat mungkin sudah menutup pintu dan jendela rumah. Namun, bau asap terkadang tetap dapat masuk ke dalam ruangan. Hal tersebut dapat terjadi karena ukuran partikel PM2,5 sangat kecil dan sebagian polutan masih dapat masuk melalui celah-celah atau sirkulasi udara. Sebagai langkah sementara, masyarakat dapat mengurangi masuknya udara dari luar melalui ventilasi atau celah tertentu. Salah satu cara sederhana yang disampaikan dalam dialog adalah menggunakan kain lembap pada bagian ventilasi untuk membantu mengurangi masuknya partikel dari luar.

Fungsi Hujan Pencuci Atmosfer dari Polutan

Hujan sebenarnya memiliki peran penting dalam membantu membersihkan atmosfer. Ketika hujan turun, sebagian debu dan partikel polutan di udara ikut terbawa turun ke permukaan. Proses ini sebagai pencucian alami atmosfer. Namun, saat hujan lama tidak turun, proses pencucian alami tersebut tidak terjadi. Akibatnya, polutan dari berbagai sumber, termasuk aktivitas manusia dan asap kebakaran, dapat terus berada dan terakumulasi di lapisan udara yang kita hirup sehari-hari. Hujan dapat membawa partikel dan polutan turun dari udara. Inilah salah satu alasan mengapa udara sering terasa lebih segar setelah hujan turun. Namun, datangnya hujan bukan berarti masyarakat dapat mengabaikan upaya pencegahan karhutla. Pada kondisi musim kemarau yang kering, pencegahan tetap menjadi langkah utama untuk mengurangi kemungkinan munculnya titik api.

Kalau Asap Tebal, Kenapa Tidak Langsung Membuat Hujan Buatan?

Mengapa Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC tidak langsung dilakukan ketika kabut asap semakin tebal?Ternyata, proses modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan sembarangan. Salah satu syarat penting adalah tersedianya awan yang sesuai untuk dilakukan proses penyemaian. Pada musim kemarau yang sangat kering, pembentukan awan lebih sulit. Langit yang minim awan menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan OMC. Karena itu, keberadaan kabut asap tidak otomatis berarti hujan buatan dapat langsung dilakukan. Kondisi atmosfer dan keberadaan awan tetap menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan.

Wilayah Kering Perlu Mendapat Perhatian Lebih

Selama musim kemarau, wilayah yang mengalami kekeringan perlu mendapatkan perhatian khusus. Salah satunya adalah daerah lahan gambut dan mengalami kondisi kering berkepanjangan.

Kab. Tanah Laut menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena kondisi kekeringan meteorologis terjadi mencapai fase Awas. Masyarakat di wilayah rawan kekeringan dan karhutla diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan, menghemat penggunaan air, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Kalimantan Selatan diprediksi masih berada dalam fase puncak musim kemarau dalam beberapa pekan ke depan. Pertumbuhan awan hujan masih relatif rendah, sementara suhu maksimum pada siang hari diprakirakan dapat berkisar antara 33 hingga 35 derajat Celsius dengan kelembapan udara yang relatif rendah. Risiko kekeringan dan karhutla perlu diperhatikan, terutama di wilayah yang mengalami hari tanpa hujan cukup panjang. Masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan air dan menjaga kesehatan saat beraktivitas.

Lima Tips Sederhana untuk Menghadapi Kemarau dan Kabut Asap

BMKG menyampaikan beberapa langkah penting yang dapat dilakukan masyarakat selama periode kemarau kering, yaitu :

Pertama, pantau informasi resmi. Gunakan aplikasi InfoBMKG untuk memantau kondisi cuaca dan indikator kualitas udara sebelum merencanakan aktivitas di luar ruangan.

Kedua, atur waktu aktivitas. Aktivitas fisik berat di luar ruangan, termasuk olahraga, sebaiknya hindari pada pagi hari sekitar pukul 05.00–08.30 WITA ketika polutan berpotensi masih terkonsentrasi di dekat permukaan. Waktu menjelang sore dapat menjadi pilihan ketika kondisi atmosfer lebih mendukung penyebaran polutan.

Ketiga, gunakan masker yang sesuai. Saat harus melintasi wilayah berdebu atau berasap, gunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang memadai, seperti N95, KN95, atau KF94, untuk membantu mengurangi paparan partikel PM2.5.

Keempat, cegah munculnya sumber api. Jangan membuang puntung rokok di area semak atau lahan kering. Hindari membakar sampah dan jangan membuka lahan dengan cara membakar.

Kelima, hemat penggunaan air dan jaga kesehatan. Cukupi kebutuhan cairan tubuh, kurangi aktivitas yang berat saat cuaca panas, dan gunakan air secara bijak selama musim kemarau.

Masalah kualitas udara dan karhutla bukan hanya tugas pemerintah atau satu instansi tertentu. Setiap orang memiliki peran dalam mencegah kondisi menjadi lebih buruk. Jangan membuat aktifitas membakar. Pantau kondisi cuaca dan kualitas udara. Atur aktivitas dengan lebih bijak, serta jaga kesehatan diri dan keluarga. Cuaca panas dan musim kemarau memang merupakan bagian dari dinamika iklim. Namun, dampaknya dapat diminimalkan jika kita memahami risikonya dan mengambil langkah pencegahan sejak dini. Mari menjaga Kalimantan Selatan dari ancaman karhutla dan kabut asap. Karena udara bersih bukan hanya tentang kenyamanan hari ini, tetapi juga tentang kesehatan dan keselamatan kita semua.

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll to Top