Banjarbaru, (24/6/2026) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan kabut asap dan mulai berdampak terhadap kualitas udara. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena asap karhutla dapat mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam dialog Banjar Realita RRI Banjarmasin bersama Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik S.T., M.P., pada 24 Agustus 2026.
Monitoring Kualitas Udara Saat Ini
Berdasarkan hasil pengamatan konsentrasi partikulat PM2.5 di Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, kualitas udara pada saat dialog berlangsung berada pada kategori sedang.
Namun, kondisi kualitas udara sebelumnya sempat mengalami penurunan. Pada 19 Agustus 2026, hasil pengamatan menunjukkan kualitas udara sempat mencapai kategori berbahaya, yang juga disertai dengan jarak pandang atau visibilitas yang sangat rendah. Kemudian pada 20 Agustus 2026, kondisi kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.

Gambar 1. Konsentrasi partikulat PM2.5 Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan 19 Agustus 2026, Keterangan : Kualitas udara secara umum berada pada kategori Sedang dengan konsentrasi rata-rata sebesar 104.96 µgram/m3. Namun terjadi lonjakan konsentrasi PM 2.5 mulai 04.00 – 09.00 WITA dengan kategori Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya. Konsentrasi tertinggi sebesar 412.80 µgram/m3 pada jam 05.00 WITA dengan kategori Berbahaya.
Selanjutnya, sejak 21 Agustus hingga 24 Agustus 2026, hasil pengamatan kembali menunjukkan kualitas udara berada pada kategori sedang.
Meskipun kondisi saat ini relatif lebih baik, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan karena kualitas udara dapat berubah dengan cepat, terutama akibat perubahan arah angin yang dapat membawa asap dari lokasi kebakaran ke wilayah lain.
Musim Kemarau Kering Meningkatkan Potensi Karhutla
Kondisi musim kemarau tahun 2026 yang kering ini menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Berdasarkan pemantauan hari tanpa hujan di sejumlah titik pengamatan di Kalimantan Selatan, terdapat wilayah yang telah mengalami periode tanpa hujan hingga sekitar 60 hari berturut-turut.

Gambar 2. Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) Update 20 Agustus 2026, Keterangan : Pada Dasarian II Agustus 2026, wilayah Kalimantan Selatan pada umumnya mengalami hari tanpa hujan kriteria Panjang (21-30 Hari) dan Sangat Panjang (31-60 Hari). Selain itu, terdapat juga wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dengan kriteria Kekeringan Ekstrim (>60 Hari) di wilayah Kabupaten Tanah Laut (Jorong, Panyipatan, Pelaihari, dan Takisung), Kabupaten Barito Kuala (Tamban dan Mekarsari), serta Kabupaten Banjar (Sungai Tabuk).
Kondisi cuaca yang lebih kering menyebabkan vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Oleh karena itu, potensi kebakaran hutan dan lahan serta munculnya kabut asap dapat meningkat. Setiap wilayah juga dapat mengalami kondisi yang berbeda karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti topografi, kondisi lingkungan, lokasi hotspot, serta arah dan kecepatan angin.
Kabut Asap Biasanya Lebih Pekat pada Pagi Hari
Berdasarkan pola pengamatan, kabut asap dan polutan cenderung lebih terasa pada dini hari hingga pagi hari. Pada waktu tersebut, partikel polutan terkonsentrasi lebih dekat dengan permukaan sehingga kabut terlihat lebih pekat. Ketika matahari mulai bersinar dan pergerakan angin meningkat, polutan perlahan menyebar dan kondisi udara dapat berangsur membaik. Oleh sebab itu, pada siang hari kondisi kabut asap di beberapa wilayah dapat terlihat lebih berkurang.
Meski demikian, kondisi ini dapat berubah sewaktu-waktu. Asap dari titik kebakaran yang jauh dapat terbawa angin menuju wilayah permukiman sehingga masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi perubahan kondisi udara.
Kenali Tanda Kabut Asap yang Perlu Diwaspadai
Masyarakat dapat mengenali beberapa tanda sederhana ketika kabut asap mulai mengganggu kualitas udara.
Pertama, kabut atau asap terlihat semakin pekat. Semakin tebal kabut asap yang terlihat, semakin besar kemungkinan konsentrasi polutan di udara meningkat.
Kedua, muncul bau asap atau bau terbakar yang menyengat. Jika bau asap mulai terasa kuat, masyarakat perlu lebih berhati-hati dan mengurangi paparan udara luar.
Kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal bahwa kualitas udara sedang menurun dan memerlukan langkah antisipasi, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.
Tetap Gunakan Masker dan Kurangi Paparan Asap
Saat kualitas udara terganggu oleh kabut asap, masyarakat diimbau untuk tetap melakukan langkah-langkah pencegahan sederhana. Salah satunya adalah menyiapkan dan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kabut asap mulai terasa pekat.
Penggunaan masker menjadi penting karena arah angin dapat berubah sewaktu-waktu. Asap dari titik kebakaran yang berada jauh dari suatu wilayah pun dapat terbawa menuju kawasan permukiman. Anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapatkan perhatian khusus karena lebih rentan terhadap dampak paparan asap.
Terkait keputusan seperti meliburkan sekolah atau menerapkan pembelajaran daring, BMKG berperan menyampaikan informasi kondisi kualitas udara. Sementara itu, keputusan dan tindak lanjut perlu dilakukan oleh instansi yang berwenang melalui koordinasi, terutama dengan sektor kesehatan dan pendidikan.
Kawasan Bandara Juga Menjadi Perhatian
Kabut asap juga perlu mendapat perhatian khusus di sekitar kawasan bandara karena dapat memengaruhi jarak pandang dan keselamatan penerbangan. Penanganan dan pengendalian karhutla di wilayah sekitar kawasan strategis menjadi penting agar dampak asap dapat diminimalkan. Dalam beberapa hari terakhir, kondisi asap di sejumlah lokasi terpantau mulai berkurang, namun upaya pencegahan tetap harus dilakukan secara berkelanjutan.
Pantau Informasi Resmi Kualitas Udara
BMKG terus melakukan pemantauan kondisi cuaca, kekeringan, dan kualitas udara. Masyarakat dapat memperoleh informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG (Info BMKG) serta media sosial Info Iklim Kalimantan Selatan (Iklim Kalsel dan Cuaca Kalsel). Informasi kualitas udara dilaporkan secara berkala dan kondisi pada waktu tertentu dapat diperiksa berdasarkan data pengamatan yang tersedia. Informasi resmi tersebut penting sebagai acuan masyarakat dalam menentukan langkah antisipasi dan beraktivitas sehari-hari.
Bersama-sama Mencegah Karhutla
Pencegahan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan peran semua pihak. Masyarakat diimbau untuk tidak membakar sampah dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Pada kondisi musim kemarau yang kering, sumber api kecil dapat dengan cepat memicu kebakaran yang lebih luas. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghasilkan asap yang dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat. Karena itu, sinergi antara masyarakat, pemerintah, aparat, dan seluruh pihak terkait sangat diperlukan untuk mencegah dan menangani karhutla.
Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan menghindari segala bentuk aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Dengan upaya bersama, dampak karhutla dan kabut asap terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat di Kalimantan Selatan diharapkan dapat diminimalkan.
![]()


